Selama ini, di lingkungan jamiyah Nahdlatul Ulama, kita mengenal penggerak utama Nahdlatul Ulama ketika sebelum dan di awal-awal pendiriannya adalah KH A. Wahab Hasbullah. Sebagai seorang penggerak, Kyai Wahab menjalankan misi gerakan, dengan menggerakkan orang, dalam hal ini kyai-kyai, untuk secara bersama-sama terlibat dan melakukan kegiatan dalam jamiyah baru Nahdlatul Ulama.
Sebagaimana yang pernah kami tulis, menggerakkan seluruh kyai di wilayah Jawa, Madura, bahkan Sumatera dan Nusa Tenggara Barat saat itu, berarti menggerakkan sekian ratus ribu, bahkan sekian juta orang jamaah untuk terlibat dan berkegiatan dalam jamiyah Nahdlatul Ulama. Karena seorang kyai di satu kabupaten bisa menjadi pemimpin dari sekian ribu jamaah. Jamak kita ketahui, seorang kyai yang mampu menggerakkan sekian ribu jamaah tersebut merupakan perwakilan jamaah yang "dipilih" secara selektif dan substantif dalam jangka waktu yang panjang. Pemilihan tersebut sangat jauh berbeda dengan pemilihan anggota parlemen atau pemimpin politik daerah atau pusat.
Dalam satu tulisan pernah diceritakan, bagaimana Kyai Wahab mendatangi satu persatu, melobi dan meyakinkan para kyai yang ada di beberapa daerah untuk terlibat, masuk menjadi anggota dan melakukan kegiatan di jamiyah Nahdlatul Ulama. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Nahdlatul Ulama menjadi jamiyah (organisasi) yang sangat besar. Apalagi upaya yang dilakukan Kyai Wahab sudah ditopang oleh kelembagaan pondok pesantren, lebih jauh lagi oleh kelembagaan paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Madzahibil Arbaah. Dalam hal ini, Kyai Wahab melakukan pengorganisasian kyai-kyai yang mengasuh pondok pesantren dan kyai-kyai yang berpaham Aswaja ala Madzahibil Arbaa, yang hampir seluruhnya adalah alumni pondok pesntren.
Misi yang dijalankan Kyai Wahab merupakan upaya membangun sebuah gerakan besar yang lingkup wilayahnya tidak main-main: se-Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Misi yang telah dijalankan Kyai Wahab adalah untuk visi menjaga dan melestarikan ajaran Aswaja tetap dijalankan dengan baik. Oleh siapa? Oleh para jamaah, yang selanjutnya menjadi anggota Nahdlatul Ulama. Ajaran Aswaja apa? Ajaran dalam hal ibadah dan muamalah, termasuk bagaimana para jamaah bisa hidup sejahtera di dunia.
Jika Kyai Wahab sudah menggerakkan sekian ratus, bahkan mungkin sekian ribu Kyai, selanjutnya bagaimana para kyai menggerakkan jamaah Nahdlatul Ulama agar bisa terus melestarikan ajaran Aswaja, terutama di jaman yang penuh gejolak sosial, ekonomi dan politik saat ini. Menggerakkan jamaah, terutama untuk urusan muamalah (sosial, ekonomi bahkan politik keumatan) tidak harus dimulai dari lingkaran yang besar.
Menggerakkan jamaah adalah melakukan satu kegiatan secara bersama-sama untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan dalam berbagai bidang kehidupan: sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Masalah sosial budaya terkait dengan relasi antar jamaah. Kebutuhan sosial budaya bisa terkait dengan penyelenggaraan majelis dzikir dan majelis ilmu. Masalah ekonomi dan kebutuhan ekonomi terkait dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Sedangkan masalah politik terkait dengan partisipasi dalam kebijakan publik.
Karena dari melakukan kegiatan secara bersama-sama ini, jamaah bisa saling memahami antara satu dengan yang lain, sehingga akan tumbuh solidaritas yang lebih besar. Bukan sekedar solidaritas yang sifatnya emosional, tetapi solidaritas yang bersifat rasional, dan bertumpu ke kesamaan nasib dan berjuang untuk mengubah nasib yang lebih baik. Dari solidaritas yang tumbuh ini, soliditas dan konsolidasi jamiyah Nahdlatul Ulama akan bertambah kuat. Di sinilah makna al ittihad yang disebut dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama, yang ditulis Hadratus Syaikh Hasyim Asyari.
Solidaritas yang kuat akan menumbuhkan perjuangan untuk meraih visi besar Nahdlatul Ulama yang tertuang secara jelas dalam AD/ART Perkumpulan Nahdlatul Ulama: berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta. (Alba)


00.01
Muslimin-Abdilla


