Rabu, 14 Januari 2026

Penggerak Yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama

Selama ini, di lingkungan jamiyah Nahdlatul Ulama, kita mengenal penggerak utama Nahdlatul Ulama ketika sebelum dan di awal-awal pendiriannya adalah KH A. Wahab Hasbullah. Sebagai seorang penggerak, Kyai Wahab menjalankan misi gerakan, dengan menggerakkan orang, dalam hal ini kyai-kyai, untuk secara bersama-sama terlibat dan melakukan kegiatan dalam jamiyah baru Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana yang pernah kami tulis, menggerakkan seluruh kyai di wilayah Jawa, Madura, bahkan Sumatera dan Nusa Tenggara Barat saat itu, berarti menggerakkan sekian ratus ribu, bahkan sekian juta orang jamaah untuk terlibat dan berkegiatan dalam jamiyah Nahdlatul Ulama. Karena seorang kyai di satu kabupaten bisa menjadi pemimpin dari sekian ribu jamaah. Jamak kita ketahui, seorang kyai yang mampu menggerakkan sekian ribu jamaah tersebut merupakan perwakilan jamaah yang "dipilih" secara selektif dan substantif dalam jangka waktu yang panjang. Pemilihan tersebut sangat jauh berbeda dengan pemilihan anggota parlemen atau pemimpin politik daerah atau pusat.

Dalam satu tulisan pernah diceritakan, bagaimana Kyai Wahab mendatangi satu persatu, melobi dan meyakinkan para kyai yang ada di beberapa daerah untuk terlibat, masuk menjadi anggota dan melakukan kegiatan di jamiyah Nahdlatul Ulama. Sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Nahdlatul Ulama menjadi jamiyah (organisasi) yang sangat besar. Apalagi upaya yang dilakukan Kyai Wahab sudah ditopang oleh kelembagaan pondok pesantren, lebih jauh lagi oleh kelembagaan paham Ahlussunnah wal Jamaah ala Madzahibil Arbaah. Dalam hal ini, Kyai Wahab melakukan pengorganisasian kyai-kyai yang mengasuh pondok pesantren dan kyai-kyai yang berpaham Aswaja ala Madzahibil Arbaa, yang hampir seluruhnya adalah alumni pondok pesntren.

Misi yang dijalankan Kyai Wahab merupakan upaya membangun sebuah gerakan besar yang lingkup wilayahnya tidak main-main: se-Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Misi yang telah dijalankan Kyai Wahab adalah untuk visi menjaga dan melestarikan ajaran Aswaja tetap dijalankan dengan baik. Oleh siapa? Oleh para jamaah, yang selanjutnya menjadi anggota Nahdlatul Ulama. Ajaran Aswaja apa? Ajaran dalam hal ibadah dan muamalah, termasuk bagaimana para jamaah bisa hidup sejahtera di dunia.

Jika Kyai Wahab sudah menggerakkan sekian ratus, bahkan mungkin sekian ribu Kyai, selanjutnya bagaimana para kyai menggerakkan jamaah Nahdlatul Ulama agar bisa terus melestarikan ajaran Aswaja, terutama di jaman yang penuh gejolak sosial, ekonomi dan politik saat ini. Menggerakkan jamaah, terutama untuk urusan muamalah (sosial, ekonomi bahkan politik keumatan) tidak harus dimulai dari lingkaran yang besar.

Menggerakkan jamaah adalah melakukan satu kegiatan secara bersama-sama untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan dalam berbagai bidang kehidupan: sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Masalah sosial budaya terkait dengan relasi antar jamaah. Kebutuhan sosial budaya bisa terkait dengan penyelenggaraan majelis dzikir dan majelis ilmu. Masalah ekonomi dan kebutuhan ekonomi terkait dengan produksi, distribusi dan konsumsi. Sedangkan masalah politik terkait dengan partisipasi dalam kebijakan publik.

Karena dari melakukan kegiatan secara bersama-sama ini, jamaah bisa saling memahami antara satu dengan yang lain, sehingga akan tumbuh solidaritas yang lebih besar. Bukan sekedar solidaritas yang sifatnya emosional, tetapi solidaritas yang bersifat rasional, dan bertumpu ke kesamaan nasib dan berjuang untuk mengubah nasib yang lebih baik. Dari solidaritas yang tumbuh ini, soliditas dan konsolidasi jamiyah Nahdlatul Ulama akan bertambah kuat. Di sinilah makna al ittihad yang disebut dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama, yang ditulis Hadratus Syaikh Hasyim Asyari.

Solidaritas yang kuat akan menumbuhkan perjuangan untuk meraih visi besar Nahdlatul Ulama yang tertuang secara jelas dalam AD/ART Perkumpulan Nahdlatul Ulama: berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat dan demi terciptanya rahmat bagi semesta. (Alba)

Selasa, 13 Januari 2026

Dari Isyaroh Mbah Kholil. Berdirinya NU Untuk Siapa?

Peristiwa pemberian isyaroh dari Syaikona Kholil Bangkalan ke Hadratus Syaikh Hasyim Asya'ri melalui KH As'ad Samsul Arifin, untuk mendirikan jamiyah ulama, sampai saat ini masih kontroversial. Satu sisi menggunakan pendekatan history mengatakan bahwa peristiwa pemberian isyaroh dari Syaikhona Kholil ke Hadratus Syikh Hasyim Asy'ari tidak didukung sumber primer, berupa catatan resmi dalam dokumen-dokumen Nahdlatul Ulama, baik berupa arsip atau tulisan pada saat itu. Narasi tentang pemberian isyaroh tersebut diceritakan secara oral jauh setelah peristiwa terjadi. 

Menurut pendapat ini, narasi oral tanpa dukungan sumber primer tidak bisa dijadikan dasar sebagai peristiwa sejarah, apalagi terkait dengan berdirinya sebuah organisasi besar.

Sementara di sisi yang lain, sebagaimana yang selama ini dipercaya, ada pendapat yang mengatakan bahwa, pemberian isyaroh tersebut memang terjadi. Kepercayaan tersebut berangkat dari analisis beberapa peristiwa sejarah hubungan Syaikhona Kholil dengan para kyai di Jawa dan luar Jawa. 

Juga yang paling utama adalah cerita yang disampaikan KH As'ad Saymsul Arifin Situbondo, terkait dengan diutusnya beliau oleh Syaikhona Kholil ke Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari untuk menyampaikan pesan isyaroh pendirian jamiyah ulama.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang memang kerap terjadi dalam menafsirkan sejarah, yang paling utama adalah sesungguhnya untuk apa sejatinya jamiyah ulama yang selanjutnya diberi nama Nahdlatul Ulama didirikan. Apakah sesuai dengan namanya untuk kebangkitan ulama? Kalau memang untuk kebangkitan ulama, apa makna kebangkitan ulama sesungguhnya?

Kita tahu, dan menjadi fakta sejarah bahwa, umat Islam di Indonesia adalah penganut ajaran Aswaja yang tradisionalis, sebelum datangnya Islam modernis dan revivalis. Dalam masyarakat Islam tardisionalis yang berpaham Aswaja ini (golongan santri), penggerak pembangunan dan pemimpin masyarakat diperankan oleh ulama (kyai). 

Ulama (kyai) menjadi penggerak dan pemimpin masyarakat santri mulai urusan privat (perjodohan, pekerjaaan, keluarga), sampai urusan publik (belajar ilmu agama, hubungan sosial, membangun pra sarana). Kyai yang menjadi wakil terpercaya yang dipilih tidak sekedar melalui pemilihan yang prosedural, tetapi melalui sistem kepercayaan yang lebih substansial.

Dari sini bisa dilihat bahwa, jika berbicara tentang seorang ulama (kyai), berarti berbicara tentang sekian ratus bahkan sekian ribu umat Islam yang berpaham Aswaja yang tradisionalis. Keberdayaan umat, baik dari segi ekonomi, sosial-budaya maupun politik, benar-benar tergantung dan menjadi tanggung jawab ulama (kyai).

Makna nahdlatul ulama (kebangkitan ulama) sesungguhnya bisa dirunut dari penjelasan seperti ini. Karena itu, kebangkitan ulama sesungguhnya merupakan manifestasi dari kebangkitan umat (jamaah). Ulama yang bangkit artinya umat yang bangkit. Umat yang bangkit berarti umat yang secara ekonomi mandiri dan sejahtera, secara sosial-budaya egaliter dan secara politik partisipatif dan demokratis. (Alba)

Bagaimana rekruitmen anggota DPR/DPRD

1. Anggota DPR/DPRD adalah kader partai yang telah melakukan pengorganisasian rakyat,

2. Dengan melakukan pengorganisasin rakyat anggota DPR tahu kondisi rakyat,

3. Dalam melakukan pengorganisasian rakyat, kader partai akan dilatih keterampilan dalam melobi dan mempengaruhi orang untuk secara bersama menyelesaikan masalah rakyat secara bersama,

4. Wilayah pengoragnisasin menentukan di tingkat dimana seoran kader akan menjadi anggota DPR/DPRD,

5. Jika hanya mampu melakukan pengorganisasian di beberapa kecamatan, maka bisa menjadi anggota DPRD kota/kab, dg pemilihnya adalah orang-orang yang diorganisir. Jika mampu melakukan antar kabupaten, bisa menjadi anggota DPRD provinsi atau DPR RI.

6. Dari sini anggota DPRD akan memiliki keterampilan dalam memperjuangkan rakyat, punya empati dan kenal dengan rakyat yang menjadi konstituen,

7. Pengorganisasian dilakukan dengan mendorong kegiatan bersama untuk menyelsaikan masalah bersama, baik dalam ekonomi, politik atau sosial budaya,

8. Dari sini akan terbangun solidaritas dan organisasi di antara rakyat. Mereka yang terorganisur inilah yang menjadi konstiuen, yang memiliki kekuatan untuk mengontrol anggota DPR yang mewakili mereka. Dari sini, kebijakan partai politik yang mewadahi anggota DPRD tersebut kuga ditentukan oleh rakyat yang menjadi konstitien.

Itu adalah jika ingin membangun partai politik dan mencetak kader di DPRD yang baik.

Dari Tidak Diakui Menjadi Ketua PCNU, Sampai Menang Pilkada

Masih terlintas dengan jelas di ingatan kita, dan terdokumentasikan dalam berbagai tulisan, baik di media sosial maupun media massa, bagaimana KH Salmanudin Yazid (Gus Salman) dua setengah tahun yang lalu (2022) tidak diakui dan disingkirkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang didukung oleh orang-orang yang berseberangan dengan Gus Salman di Jombang.

Peristiwa tersebut dimulai setelah peserta Konfercab NU Jombang, 4 Juni 2022 memilih kembali untuk yang kedua kalinya pasangan KH Abdul Nashir Fattah sebagai Rais dan KH Salmanudin Yazid sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang masa khidmah 2022-2027. Pemilihan tersebut disahkan oleh pimpinan sidang pleno pemilihan Konfercab, M Qoderi, Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur. Karena menganggap bahwa, proses pemilihan dinyatakan sudah sesuai dengan AD/ART Nahdlatul Ulama dan Peraturan Organisasi dan Administrasi (POA).

Keputusan tersebut, selanjutnya diajukan ke PBNU untuk dimintakan Surat Keputusan kepengurusan PCNU Jombang 2022/2027, dengan rekomendasi dari PWNU Jawa Timur. Namun, ternyata PBNU tidak mengakui hasil Konferensi tersebut. Saifulloh Yusuf, selaku Sekjen PBNU meminta pemilihan Ketua diulang dalam Konfercab ulangan karena dianggap tidak sah. Meskipun tidak dijelaskan tidak sahnya karena apa. Namun, selanjutnya diketahui bahwa, PBNU menganggap bahwa, pemilihan ketua tidak melibatkan Pengurus Ranting NU. Tentu hal ini dibantah. Karena Pengurus Ranting terlibat dalam Konfercab.

PWNU Jatim yang dibantu sepenuhnya panitia Konfercab, selanjutnya menggelar lagi Konfercab dengan susah payah. Saifulloh Yusuf yang saat itu datang bersama dua orang wakilnya di Konfercab ulang, malah membubarkan forum Konfercab ulangan tersebut, dan meninggalkan arena begitu saja.

Selanjutnya, alih-alih PBNU memanggil Gus Salman dan berupaya menyelesaikan masalah tersebut, PBNU malah membuat SK caretaker PCNU Jombang yang diketuai Saifulloh Yusuf sendiri. Mandat dari caretaker PCNU adalah melaksanakan Konfercab ulang. Setelah sekian lama, caretaker PCNU Jombang gagal melaksanakan tugasnya, dan PBNU tanpa ada informasi apapun kemudian memilih Ketua Tanfizdiyah Gus H Fahmi Amrullah dan Rais KH A Hasan sebagai Ketua dan Rais memilih PCNU definitif masa kerja satu tahun. Pemilihan Ketua dan Rais ini tidak ada aturannya di AD/ART Nahdlatul Ulama, tapi tetap dilakukan oleh PBNU.

Semua yang dilakukan PBNU tersebut, yang ditopang oleh orang-orang yang selama ini tidak senang dengan Gus Salman, sangat merendahkan Gus Salman sebagai orang yang dipilih oleh peserta Konfercab NU secara sah.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah pelantikan PCNU definitif masa kerja satu tahun (2022/2023) diselenggarakan secara besar-besaran di Hall PCNU, yang dibangun Gus Salman saat menjadi ketua PCNU. Sementara Gus Salman dianggap seperti seorang yang tidak diakui keberadaannya. 

Siapa orang-orang yang dengan bangga bisa dilantik oleh PBNU dengan menggusur Gus Salman dalam PCNU definitif tersebut? Mereka adalah para Kiai, yang juga sama gelar sosial-nya dengan KH Salmanudin Yazid. Namun, dari apa yang mereka lakukan, orang bisa menilai, apa dan bagaimana yang mereka lakukan.

Setelah kepengurusan PCNU definitif berada di akhir masa jabatan, dibentuk kepanitian Konfercab NU, dan kemudian terpilih kepengurusan PCNU Jombang 2023/2028. Namun anehnya, dalam Konfercab tersebut panitia tidak melibatkan sama sekali Pengurus Ranting, namun tetap disahkan oleh PBNU.

Melihat kondisi Gus Salman yang masih memiliki kekuatan dukungan dari bawah yang sangat kuat, karena kinerja Gus Salman selama menjadi Ketua PCNU Jombang sangat nyata dan bisa dirasakan, banyak Kiai-kiai yang ada di Ranting-ranting dan sebagian di MWC NU se-Jombang, secara alamiah mendesak dan meminta Gus Salman untuk maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jombang. Kebetulan pada tahun 2024 ini di Jombang diselenggarakan Pilkada.

Desakan dan permintaan dari para Kiai tersebut tidak serta merta di-iya-kan oleh Gus Salman. Karena memang selama ini, Gus Salman bukan kiai yang bergelut di wilayah politik, dan tidak suka tampil di depan. Namun, berkat desakan yang kuat dan alot, termasuk dukungan penuh dari guru-gurunya, melalui istikhoroh, akhirnya Gus Salman setuju untuk maju dalam Pilkada Jombang.

Desakan dan permintaan dari para Kiai tersebut kemudian ditampung dan ditawarkan ke pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebagai partai pemenang Pemilu di Jombang. Ternyata gayung bersambut, pengurus PKB menerima desakan dari para Kiai tersebut.

Saat itu ternyata PKB sudah menjalin komunikasi dengan H. Warsubi, salah satu Kepala Desa di Jombang, yang kebetulan juga seorang pengusaha. Setelah melalui proses politik yang cukup menyita waktu dan energi, akhirnya terbentuk pasangan Cabup dan Cawabup H. Warsubi dan KH Salmanudin Yazid.

Setelah melalui proses kampanye yang cukup melelahkan, dimana pasangan H. Warsubi - KH Salmanudin Yazid (WARSA), harus mengunjungi 306 desa dan kelurahan se-Jombang untuk mengadakan pasar murah, akhirnya dalam Pilkada yang diselenggarakan pada Rabu, 27 November 2024, pasangan WARSA unggul telak, dengan merebhmut 75% suara pemilih. Mengalahkan pasangan Hj. Munjidah - Sumrambah (MURAH).

Dari rentetan peristiwa ini, bisa digambarkan bagaimana KH Salmanudin Yazid (Gus Salman) yang sudah terpilih menjadi Ketua PCNU Jombang masa khidmat 2022/2027, namun tidak diakui, hingga kemudian bisa terpilih menjadi Wakil Bupati Jombang periode 2024/2029. Dari sini tentu bisa diambil banyak pelajaran, terutama bagi orang-orang berakal.

Senin, 17 Juni 2013

PCNU Membahas Laporan Monitoring Program 6 Bulan

NU Jombang Online, 
Untuk merespon hasil Rapat Koordinasi Monitoring Lembaga/Lajnah PCNU Jombang yang telah diselenggarakan pada Ahad (24/03), maka Pengurus Harian PCNU Jombang mengadakan rapat Pengurus Harian pada Selasa (27/03). 

Rapat yang diselenggarakan di Aula PCNU Jombang tersebut hadir dari jajaran Syuriah antara lain, KH M Irfan Sholeh, KH Mujib Adnan, KH Maksum Zain, KH. Abdussalam Sochib dan H. Abdul Muz Azis. Sedangkan dari unsur Tanfidziyah antara lain Dr KH Isrofil Amar dan jajaran tanfidziyah. 

Dalam rapat tersebut disampaikan Laporan Program selama 6 bulan, yang terdiri dari kegiatan yang telah direncanakan dan kegiatan yang sudah dijalankan oleh masing-masing Lembaga/Lajnah, serta kesimpulan pelakasanaan program selama 6 bulan yang antara lain berisi: 

 1. Dari 18 Lembaga/Lajnah yang menjadi pelaksana program PCNU, yang hadir dalam pertemuan monitoring 14 Lembaga/Lajnah. Empat lembaga yang tidak hadir adalah LP Maarif NU, LWPNU, LAZISNU dan RMINU 

2. Dari 14 Lembaga/Lajnah yang telah melaksanakan kegiatan sesuai perencanaan adalah: LTMNU, LKKNU, LBMNU, LESBUMI, LPNU, LPBH dan LFNU. Sedangkan yang belum, masih merencanakan dan menjalankan sebagian kegiatan adalah LAKPESDAM NU, LDNU, LTNNU, Aswaja Center, LKNU, LPPNU dan LPBINU 

3. Secara keseluruhan pelaksanaan kegiatan-kegiatan masih berada dalam kendali sesuai dengan perencanaan, meskipun ada yang perlu disesuaikan lagi dengan mandat perencanaan. 

4. Pengurus Tanfidziyah dan Syuriah yang telah diberi amanah menjadi penanggungjawab bagi Lembaga/Lajnah belum secara kesuluruhan menjalankan amanah sesuai dengan tangggungjawabnya. 

5. Berkaitan dengan Kartanu, PCNU akan mengundang MWC untuk membicarakan hal ini 

6. Sehubungan dengan LAZISNU, akan segera diselesaikan masalah kepengurusannya dan ada usulan untuk manajer. Akhir bulan ini harus sudah selesai 

7. RMINU: yang belum berjalan akan dicariakan solusinya dan yang bertugas Gus Muis dan kiyai Irfan (mus)

BMTNU Jombang Resmi Berdiri

NU Jombang Online, 
Setelah melalui persiapan teknis selama hampir 6 bulan, akhirnya Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jombang sukses memfasilitasi berdirinya Baitul Maal Wa Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU), yang secara resmi didirikan pada Minggu (31/03). Peresmian pendirian BMTNU Jombang yang akan beroperasi dengan prinsip-prsinsip koperasi tersebut dilakukan melalui Rapat Anggota Pertama yang diadakan di Aula PCNU Jombang. 

Hadir dalam pembukaan Rapat Anggota tersebut antara lain Rais Syuriah PCNU Jombang, KH Abd Nashir Fattah, Wakil Rais PCNU Jombang, KH M Irfan Soleh dan KH Mahrus, Wakil Ketua Tanfidziyah HM Munif Khusnan, Ir. H. Edy Labib Patriadin dan, Sekretaris PCNU, H. Muslimin Abdilla, serta sekitar 30-an calon anggota BMTNU Jombang yang terdiri dari pengurus NU dan guru-guru Maarif NU. 

Dalam sambutannya, HM Munif Khusnan, penanggungjawab LPPNU Jombang, berharap agar BMTNU yang didirikan ini bisa berjalan dengan baik. "Saya berharap BMTNU ini tidak seperti lembaga-lembaga ekonomi milik NU Jombang yang telah didirikan di masa lalu yang berhenti di tengah jalan", kata pria yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Pemkab Jombang itu. 

Setelah pembukaan yang berlangsung cukup singkat, kegiatan dilanjutkan dengan Rapat Anggota Pertama BMTNU Jombang. Alur pertama dalam Rapat Anggota itu adalah pemilihan pimpinan rapat. Dalam pemilihan tersebut peserta menyepakati Abdul Muhaimin sebagai pimpinan rapat dan Rusdiyah sebagai sekretaris rapat. Sebelum membahas Anggaran Dasar, pimpinan rapat menawarkan kepada seluruh peserta rapat, apakah bersepakat untuk mendirikan BMTNU atau tidak. 

Setelah mendapat persetujuan dari seluruh peserta rapat, akhirnya secara resmi pimpinan rapat mengetok palu sidang, menandai berdirinya BMTNU pada hari Minggu tanggal 31 Maret 2013 untuk waktu yang tidak ditentukan. 

Rapat selanjutnya membahas dan menyepakati Anggaran Dasar termasuk menyepakati besaran Simpanan Pokok (Simpo) dan Simpanan Wajib (Simwa). Simpo disepakati sebasar Rp. 500.000 dan Simwa sebasar Rp. 10.000. Di akhir acara, rapat tertinggi BMTNU Jombang tersebut juga memilih secara aklamasi H. Khoirul Anam S.Ag sebagai ketua pengurus BMTNU Jombang yang pertama untuk periode 2013-2016. (mus)

Lailatul Ijtimak PCNU Jombang Putaran Kedua Berakhir

NU Jombang Online, 
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, melanjutkan kegiatan Lailatul Ijtimak putaran kedua pada malam ini, Rabu (27/03) di Kabuh Jombang. 

Pelaksanaan di Kabuh ini merupakan kegiatan terkahir putara kedua. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Masjid An-Nur tersebut, dihadiri oleh sekitar 250 orang dari pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU, pengurus Ranting NU dan warga Nahdilyin dari wilayah kecamatan Ploso, Kudu, Ngusikan, Plandaan dan Kabuh. 

 Tampak hdadir dari PCNU Jombang antara lain Rais Syuriah PCNU Jombang, KH Abd Nashir Fattah, Ketua PCNU Jombang, Dr KH Isrofil Amar serta jajaran pengurus Tanfidziyah dan Syuriah PCNU Jombang. 

 Materi yang diberikan sama seperti di lailatul ijtimak sebelumnya yaitu tentang ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah, keorganisasian NU dan sosialisasi hasil Bahtsul Masail yang telah dilakukan oleh Lembaga Bahtsul Masail NU di MWC Ngoro tanggal 13 Maret 2013. 

 Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid An-Nur Kabuh ini merupakan kegiatan putaran kedua untuk wilayah eks-kawedanan Ploso. Selanjutnya Lailatul Ijtimak PCNU Jombang akan memasuki putaran ketiga, dengan materi yang berbeda dari putaran kedua. Setiap satu kali putaran, pelaksanaan lailatul ijtimak dilaksanakan secara bergilir di empat wilayah eks-kawedanan yang ada di Jombang. (mus)

PMII Jombang Menggelar PKL Nasional

NU Jombang Online, 
Dengan mengusung tema "Mencetak Kader Mujahid Untuk PMII, Nusa dan Bangsa", Pelatihan Kader Lanjut Nasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMMI) resmi dibuka pada Ahad (07/04). 

Menurut Ketua PMII Jombang, Heriyanto, pelatihan ini diikuti oleh 40 orang kader dari Pengurus Cabang PMII yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Lampung, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Dalam sambutannya, perwakilan Pengurus Besar PMII, Abidurrahman mengatakan "PMII perlu dilihat dri lima perspektif". 

Lima perspektif itu antara lain organisai, kaderisasi, strategi gerakan, kepemimpinan dan komunikasi. Pelatihan yang diadakan mulai tanggal 7-11 April ini bertempat di Gedung Islamic Center Masjid Jamik Baitul Mukminin Alon-alon Jombang. (ma)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger