Selasa, 13 Januari 2026

Dari Isyaroh Mbah Kholil. Berdirinya NU Untuk Siapa?

Peristiwa pemberian isyaroh dari Syaikona Kholil Bangkalan ke Hadratus Syaikh Hasyim Asya'ri melalui KH As'ad Samsul Arifin, untuk mendirikan jamiyah ulama, sampai saat ini masih kontroversial. Satu sisi menggunakan pendekatan history mengatakan bahwa peristiwa pemberian isyaroh dari Syaikhona Kholil ke Hadratus Syikh Hasyim Asy'ari tidak didukung sumber primer, berupa catatan resmi dalam dokumen-dokumen Nahdlatul Ulama, baik berupa arsip atau tulisan pada saat itu. Narasi tentang pemberian isyaroh tersebut diceritakan secara oral jauh setelah peristiwa terjadi. 

Menurut pendapat ini, narasi oral tanpa dukungan sumber primer tidak bisa dijadikan dasar sebagai peristiwa sejarah, apalagi terkait dengan berdirinya sebuah organisasi besar.

Sementara di sisi yang lain, sebagaimana yang selama ini dipercaya, ada pendapat yang mengatakan bahwa, pemberian isyaroh tersebut memang terjadi. Kepercayaan tersebut berangkat dari analisis beberapa peristiwa sejarah hubungan Syaikhona Kholil dengan para kyai di Jawa dan luar Jawa. 

Juga yang paling utama adalah cerita yang disampaikan KH As'ad Saymsul Arifin Situbondo, terkait dengan diutusnya beliau oleh Syaikhona Kholil ke Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari untuk menyampaikan pesan isyaroh pendirian jamiyah ulama.

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, yang memang kerap terjadi dalam menafsirkan sejarah, yang paling utama adalah sesungguhnya untuk apa sejatinya jamiyah ulama yang selanjutnya diberi nama Nahdlatul Ulama didirikan. Apakah sesuai dengan namanya untuk kebangkitan ulama? Kalau memang untuk kebangkitan ulama, apa makna kebangkitan ulama sesungguhnya?

Kita tahu, dan menjadi fakta sejarah bahwa, umat Islam di Indonesia adalah penganut ajaran Aswaja yang tradisionalis, sebelum datangnya Islam modernis dan revivalis. Dalam masyarakat Islam tardisionalis yang berpaham Aswaja ini (golongan santri), penggerak pembangunan dan pemimpin masyarakat diperankan oleh ulama (kyai). 

Ulama (kyai) menjadi penggerak dan pemimpin masyarakat santri mulai urusan privat (perjodohan, pekerjaaan, keluarga), sampai urusan publik (belajar ilmu agama, hubungan sosial, membangun pra sarana). Kyai yang menjadi wakil terpercaya yang dipilih tidak sekedar melalui pemilihan yang prosedural, tetapi melalui sistem kepercayaan yang lebih substansial.

Dari sini bisa dilihat bahwa, jika berbicara tentang seorang ulama (kyai), berarti berbicara tentang sekian ratus bahkan sekian ribu umat Islam yang berpaham Aswaja yang tradisionalis. Keberdayaan umat, baik dari segi ekonomi, sosial-budaya maupun politik, benar-benar tergantung dan menjadi tanggung jawab ulama (kyai).

Makna nahdlatul ulama (kebangkitan ulama) sesungguhnya bisa dirunut dari penjelasan seperti ini. Karena itu, kebangkitan ulama sesungguhnya merupakan manifestasi dari kebangkitan umat (jamaah). Ulama yang bangkit artinya umat yang bangkit. Umat yang bangkit berarti umat yang secara ekonomi mandiri dan sejahtera, secara sosial-budaya egaliter dan secara politik partisipatif dan demokratis. (Alba)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger