Masih terlintas dengan jelas di ingatan kita, dan terdokumentasikan dalam berbagai tulisan, baik di media sosial maupun media massa, bagaimana KH Salmanudin Yazid (Gus Salman) dua setengah tahun yang lalu (2022) tidak diakui dan disingkirkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang didukung oleh orang-orang yang berseberangan dengan Gus Salman di Jombang.
Peristiwa tersebut dimulai setelah peserta Konfercab NU Jombang, 4 Juni 2022 memilih kembali untuk yang kedua kalinya pasangan KH Abdul Nashir Fattah sebagai Rais dan KH Salmanudin Yazid sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang masa khidmah 2022-2027. Pemilihan tersebut disahkan oleh pimpinan sidang pleno pemilihan Konfercab, M Qoderi, Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) NU Jawa Timur. Karena menganggap bahwa, proses pemilihan dinyatakan sudah sesuai dengan AD/ART Nahdlatul Ulama dan Peraturan Organisasi dan Administrasi (POA).
Keputusan tersebut, selanjutnya diajukan ke PBNU untuk dimintakan Surat Keputusan kepengurusan PCNU Jombang 2022/2027, dengan rekomendasi dari PWNU Jawa Timur. Namun, ternyata PBNU tidak mengakui hasil Konferensi tersebut. Saifulloh Yusuf, selaku Sekjen PBNU meminta pemilihan Ketua diulang dalam Konfercab ulangan karena dianggap tidak sah. Meskipun tidak dijelaskan tidak sahnya karena apa. Namun, selanjutnya diketahui bahwa, PBNU menganggap bahwa, pemilihan ketua tidak melibatkan Pengurus Ranting NU. Tentu hal ini dibantah. Karena Pengurus Ranting terlibat dalam Konfercab.
PWNU Jatim yang dibantu sepenuhnya panitia Konfercab, selanjutnya menggelar lagi Konfercab dengan susah payah. Saifulloh Yusuf yang saat itu datang bersama dua orang wakilnya di Konfercab ulang, malah membubarkan forum Konfercab ulangan tersebut, dan meninggalkan arena begitu saja.
Selanjutnya, alih-alih PBNU memanggil Gus Salman dan berupaya menyelesaikan masalah tersebut, PBNU malah membuat SK caretaker PCNU Jombang yang diketuai Saifulloh Yusuf sendiri. Mandat dari caretaker PCNU adalah melaksanakan Konfercab ulang. Setelah sekian lama, caretaker PCNU Jombang gagal melaksanakan tugasnya, dan PBNU tanpa ada informasi apapun kemudian memilih Ketua Tanfizdiyah Gus H Fahmi Amrullah dan Rais KH A Hasan sebagai Ketua dan Rais memilih PCNU definitif masa kerja satu tahun. Pemilihan Ketua dan Rais ini tidak ada aturannya di AD/ART Nahdlatul Ulama, tapi tetap dilakukan oleh PBNU.
Semua yang dilakukan PBNU tersebut, yang ditopang oleh orang-orang yang selama ini tidak senang dengan Gus Salman, sangat merendahkan Gus Salman sebagai orang yang dipilih oleh peserta Konfercab NU secara sah.
Yang lebih menyakitkan lagi adalah pelantikan PCNU definitif masa kerja satu tahun (2022/2023) diselenggarakan secara besar-besaran di Hall PCNU, yang dibangun Gus Salman saat menjadi ketua PCNU. Sementara Gus Salman dianggap seperti seorang yang tidak diakui keberadaannya.
Siapa orang-orang yang dengan bangga bisa dilantik oleh PBNU dengan menggusur Gus Salman dalam PCNU definitif tersebut? Mereka adalah para Kiai, yang juga sama gelar sosial-nya dengan KH Salmanudin Yazid. Namun, dari apa yang mereka lakukan, orang bisa menilai, apa dan bagaimana yang mereka lakukan.
Setelah kepengurusan PCNU definitif berada di akhir masa jabatan, dibentuk kepanitian Konfercab NU, dan kemudian terpilih kepengurusan PCNU Jombang 2023/2028. Namun anehnya, dalam Konfercab tersebut panitia tidak melibatkan sama sekali Pengurus Ranting, namun tetap disahkan oleh PBNU.
Melihat kondisi Gus Salman yang masih memiliki kekuatan dukungan dari bawah yang sangat kuat, karena kinerja Gus Salman selama menjadi Ketua PCNU Jombang sangat nyata dan bisa dirasakan, banyak Kiai-kiai yang ada di Ranting-ranting dan sebagian di MWC NU se-Jombang, secara alamiah mendesak dan meminta Gus Salman untuk maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jombang. Kebetulan pada tahun 2024 ini di Jombang diselenggarakan Pilkada.
Desakan dan permintaan dari para Kiai tersebut tidak serta merta di-iya-kan oleh Gus Salman. Karena memang selama ini, Gus Salman bukan kiai yang bergelut di wilayah politik, dan tidak suka tampil di depan. Namun, berkat desakan yang kuat dan alot, termasuk dukungan penuh dari guru-gurunya, melalui istikhoroh, akhirnya Gus Salman setuju untuk maju dalam Pilkada Jombang.
Desakan dan permintaan dari para Kiai tersebut kemudian ditampung dan ditawarkan ke pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebagai partai pemenang Pemilu di Jombang. Ternyata gayung bersambut, pengurus PKB menerima desakan dari para Kiai tersebut.
Saat itu ternyata PKB sudah menjalin komunikasi dengan H. Warsubi, salah satu Kepala Desa di Jombang, yang kebetulan juga seorang pengusaha. Setelah melalui proses politik yang cukup menyita waktu dan energi, akhirnya terbentuk pasangan Cabup dan Cawabup H. Warsubi dan KH Salmanudin Yazid.
Setelah melalui proses kampanye yang cukup melelahkan, dimana pasangan H. Warsubi - KH Salmanudin Yazid (WARSA), harus mengunjungi 306 desa dan kelurahan se-Jombang untuk mengadakan pasar murah, akhirnya dalam Pilkada yang diselenggarakan pada Rabu, 27 November 2024, pasangan WARSA unggul telak, dengan merebhmut 75% suara pemilih. Mengalahkan pasangan Hj. Munjidah - Sumrambah (MURAH).
Dari rentetan peristiwa ini, bisa digambarkan bagaimana KH Salmanudin Yazid (Gus Salman) yang sudah terpilih menjadi Ketua PCNU Jombang masa khidmat 2022/2027, namun tidak diakui, hingga kemudian bisa terpilih menjadi Wakil Bupati Jombang periode 2024/2029. Dari sini tentu bisa diambil banyak pelajaran, terutama bagi orang-orang berakal.


23.51
Muslimin-Abdilla

0 komentar:
Posting Komentar