Minggu, 26 Juni 2011

Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren

NU Jombang Online,
Nilai-nilai yang selama ini tumbuh dan berkembang di pesantren bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam membangun pendidikan untuk menciptakan manusia yang berkarakter. Nilai-nilai tersebut meliputi kemandirian, kesederhanaan, kesopanan dan respek.

Nilai-nilai tersebut merupakan karakter pendidikan pesantren yang bisa diringkas dalam tiga kata: al Khair (goodess), al Birr (virtues) dan al Taqwa (religion commitment). Namun secara lebih menyeluruh, karakter pesantren termuat secara luas dalam aqidah, ibadah-mu’amalah dan akhlaq. Di dalam ketiga pokok bahasan inilah karakter pesantren dibangun.

Konsep pendidikan karakter pesantren tersebut bisa digunakan sebagai konsep untuk membangun karakter di Indonesia yang saat ini tergerus, terutama oleh kekuatan arus besar materialisme dan sentimen keagamaan.

Demikian benang merah yang bisa diambil dari Seminar Nasional Membangun Karakter Berbasis Pesantren yang diadakan oleh STAIBU (Sekolah Tinggi Agama Islam Bahrul Ulum) Tambakberas dan IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum) di Aula Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Sabtu (25/06/11).

Seminar yang dihadiri sekitar 300 orang tersebut mendatangkan dua narasumber, yaitu Prof. DR Machasin, Dirjen Pendidikan Tinggi Islam Kemenag dan Prof. DR. Imron Arifin, Direktur Pasca Sarjana IKAHA Tebuireng.

Menurut Imron Arifin, secara definitive, dengan mengutip Sigmund Freud dan Imam Gazali, karakter dapat diartikan sebagai kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. “Sikap tersebut terjadi secara spontan karena telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi” kata Profesor yang juga pengajar di Universitas negeri Malang ini.

Dalam merespon kondisi saat ini yang terjadi, dimana sentimen keagamaan menjadi problem yang menghambat dalam membangun karakter, Machasin menyatakan: “Penggunaan kalimat Allahu Akbar yang secara letterlijk (harfiah) berarti Allah Maha Agung menjadi semacam aba-aba untuk melakukan penyerangan. Coba lihat di pengadilan-pengadilan dan diskusi-diskusi, kalimat Allahu Akbar dijadikan sebagai aba-aba untuk berbuat keras”.

Sedangkan dalam kasus yang lain misalnya di SDN Gadel Surabaya, menurut Imron terjadi kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan. “Pemerintah menyatakan bahwa tidak ada contek missal di SDN Gadel. Kebohongan-kebohongan inilah yang merusak karakter bangsa kita” kata pria yang juga mengelola lembaga pendidikan anak ini. (mus)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger